Oleh: Jose Marwoto

Sepak bola ternyata bukan sekedar urusan teknik menyepak bulatan bola. Sepak bola telah begitu jauh meninggalkan keterbatasan definisinya sendiri untuk menggapai ketidakterbatasan makna yang melebihi sejarah dirinya.

Oleh sebagian orang, bola adalah dunia dan kehidupan ini. Ronaldinho, pemain yang pernah disebut “Dewa Sepak Bola” asal Brasil pernah berujar, “I learned all about life with a ball at my feet.” Demikianlah bulatan bola dengan diameter 21-22,5 cm dan berat 410-450 gram itu sudah bertransformasi menjadi kekuatan raksasa sehingga mampu merubah nasib seseorang dan sebuah bangsa. Bill Shankly bahkan mengatakan kalau sepak bola bahkan jauh lebih besar dari persoalan hidup dan mati, “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it’s much more serious than that.”

Itulah yang kuimajinasikan saat Pak Harry Widjaja, CEO Uni Papua FC, mengajak saya masuk ke dalam komunitas sepak bola sosial ini. “Welcome to the jungle,” ungkapnya sembari menyalamiku. Jungle? Mungkin ada benarnya saat beliau mengatakan sepak bola tak ubahnya hutan rimba. Di situ Anda bisa menemukan jalan setapak menuju sumber-sumber air yang jernih, namun di situ juga Anda bisa terjebak dalam semak berduri bahkan tersesat ke jalan yang menggiring Anda ke jurang yang membinasakan. Anda bisa menemukan binatang jinak, sekaligus bersua dengan binatang buas. Nasib baik dan nasib buruk, siapa yang tahu saat Anda berada dalam hutan belantara. Itulah hutan rimba sepak bola! Anda akan berjumpa dengan mafia sekaligus pemain dengan prestasi yang bercahaya. Anda akan menjumpai permainan culas sekaligus sportifitas. Anda akan bertemu dengan para pemenang sekaligus pecundang.

Sepak bola yang termasuk ke dalam daftar olahraga tertua – karena ditemukan sejak tahun 2.500 SM di Tiongkok (kala itu bernama Tsu Chu) – nampaknya perlu direnungkan kembali agar melalui olahraga ini perubahan-perubahan besar menuju kebaikan bisa terjadi. Saya ingin mengajak Anda untuk berkontemplasi ke daratan Yunani Kuno, sebab menurut saya, dari sanalah fajar kebijakan tentang olahraga itu terbit. Melalui puisi-puisinya Homer, kita bisa meneropong bagaimana masyarakat Yunani Kuno sangat menyukai olahraga. Ini terbukti, dimana ada orang Yunani, di situ akan dibangun sebuah kota dengan theater dan fasilitas olahraga. Kata Yunani “athletés” berarti seseorang yang berkompetisi untuk mendapatkan sebuah hadiah.

Salah satu orang bijak bestari di Yunani Kuno adalah Plato. Jika kita datang kepadanya dan bertanya, olahraga yang baik itu yang seperti apa? Maka Plato pasti akan merujuk kepada ajarannya tentang 3 level kehidupan. Level kehidupan yang paling rendah adalah kondisi jiwa yang didorong oleh nafsu lahiriah. Di level ini olahraga dimaknai hanya soal bagaimana mendapatkan hal-hal materiil, seperti mendapatkan piala. Apapun akan dilakukan agar bisa memenangkan kompetisi. Hadiah materi lebih utama daripada etika.

Di level kedua, olahraga yang baik, menurut Plato, menyangkut ranah emosional seseorang. Olahragawan bertarung untuk mengobati kehampaan dalam jiwanya, yakni ingin mendapatkan penghargaan dan kemuliaan. Mereka mengejar nama baik, popularitas dan harga diri.

Level yang paling sempurna dari olahraga, menurut Plato, adalah olahraga yang digerakkan oleh akal (dunia ide). Di level ini, olahraga bukan lagi, semata-mata, bersaing dengan kontestan lain. Perkara utama bagi olahragawan bukanlah mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan dirinya sendiri.

Dalam pandangan Plato, olahraga yang baik adalah olahraga yang dilakukan untuk menghampiri dunia ide yang sempurna, yakni kepada kepuasan yang sejati. Olahraga lantas tidak lagi terbatas pada hal-hal yang fisik, tetapi melampuinya dan menyentuh kepada sesuatu yang bernilai kekal. Karena itu, dalam pandangan Plato, olahraga bisa menjadi sarana untuk menggapai level manusia yang bernilai sempurna.

Bagi Plato, dalam setiap kompetisi justru memberi kesempatan kepada olahragawan untuk menunjukkan areté -nya, yakni keutamaan hidupnya berdasarkan nilai-nilai kebaikan yang ia yakini. Dengan demikian, belajar dari fajar kebijakan olahraga di Yunani Kuno, kemenangan atas suatu pertandingan bukan sekedar representasi dari superioritas kekuatan fisik seseorang, tetapi juga gambaran dari areté atlet tersebut. Inilah keunggulan sejati bagi sosok olahragawan pada zaman itu: Mereka tidak hanya ingin sekedar mendapatkan kemenangan, tetapi juga merebut kehormatan. Karena itulah gairah untuk bertanding ( agon) begitu besar, bukan untuk menggapi yang materiil, tetapi untuk menyentuh yang spirituil. Itulah sebabnya kompetisi olahraga yang pertama di Gunung Olympus disebut “competitions for a wreath” ( stefanitis agon ) dan bukan “competitions for money” ( chrematitis agon )! Di dalam gairah untuk bertanding ( agon) termaktub kreativitas, penyingkapan akan kebenaran ( alethéia) dan upaya memperoleh kemenangan dan kehormatan.

Sore tadi aku duduk di dalam lingkaran komunitas Uni Papua FC. Sembari mendengarkan berbagai usulan untuk memajukan sepakbola sosial ini, hatiku meyakini bahwa komunitas ini nampaknya sedang membangunkan areté dalam sepak bola, mengembalikan virtue kehidupan yang sudah lama punah dalam bulatan bola yang menggelinding di rerumputan hijau. Dan aku percaya sembari berdoa, di tangan komunitas Uni Papua ini, sepak bola akan menjadi, bukan sekedar urusan teknik menyepak bulatan bola. Sepak bola akan jauh meninggalkan keterbatasan definisinya sendiri untuk menggapai ketidakterbatasan makna yang melebihi sejarah dirinya.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *