Gubernur DKI Jakarta Basuki Purnama langsung sumringah melihat Balai Kota, Jakarta kedatangan para tamu dari Papua. Namun bukan urusan politik ataupun bisnis usaha di ibukota niat kehadiran rombongan yang menamakan Uni Papua tersebut, Selasa (28/9) kemarin.

Gubernur yang biasa disapa Ahok itu kedatangan para tamu yang habitatnya adalah sepak bola. Uni Papua merupakan organisasi yang menginisiasi Jakarta Football Festival Rusun Cup yang akan diadakan di Jakarta. Turnamen itu adalah pertandingan  sepak bola antartim remaja dari 18 rusunawa milik Pemerintah Provinsi DKI. Turnamen ini dijadwalkan digelar dari 24 Oktober – 8 November 2015

Lantas apa itu Uni Papua ? Di tengah keterpurukan sepak bola Indonesia, hadir secercah harapan dari Tanah Papua. Sebuah komunitas sepak bola didirikan di ujung timur Indonesia ini.

Ya, komunitas itu adalah Uni Papua. Uni Papua adalah sebuah gerakan sosial yang menjadikan sepak bola sebagai tempat bagi anak-anak untuk menyalurkan bakatnya. CEO Uni Papua, Harry Widjaja, menegaskan organisasinya ingin menggunakan sepak bola sebagai alat perubahan sosial.Sebuah komunitas sepak bola didirikan di ujung timur Indonesia ini. Komunitas yang menjadi anggota Football for Hope itu memberikan secercah harapan bagi bakat-bakat muda di Indonesia.

Tidak ada batasan bagi anak-anak yang ingin bergabung dengan Uni Papua. Bahkan jika mereka berprestasi, mereka harus siap dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pelatihan sepak bola dan ilmu pengetahuan.

Tak tanggung-tanggung, Uni Papua langsung mendatangkan pelatih berlisensi dari luar negeri untuk memberi pengajaran bagi anak-anak. Namun, mereka juga membuka pintu bagi tenaga pengajar andal yang ingin berpartisipasi.

“Kami ingin membangun karakter bagi anak-anak yang memang ingin bergabung dengan kami. Karena itu, kami akan memberikan pelatihan (sepak bola) dan pengajaran ilmu pengetahuan yang memiliki kurikulum dan materi yang baik,” ujar Harry kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Tidak ada batasan bagi anak-anak yang ingin bergabung dengan Uni Papua. Bahkan jika mereka berprestasi, mereka harus siap dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pelatihan sepak bola dan ilmu pengetahuan.

“Rata-rata yang bergabung anak usia 6 sampai 21 tahun, laki-laki maupun perempuan. Kami melihat sejauh mana mereka serius, jika sudah mengikuti enam bulan latihan, baru kita ikut serta di turnamen,” jelas Harry. “Kami di sini mengajarkan juga pada anak-anak untuk menjauhi minuman keras, kampanye HIV/Aids, perdamaian, sosial, dan segala hal yang menyangkut lingkungan,”jelasnya lagi.

Uni Papua merupakan organisasi anggota dari Football for Hope. Bahkan mereka juga bekerja sama dengan One World Football untuk membagikan bola untuk daerah-daerah yang kurang mampu di Indonesia. Sebuah tindakan yang mulia di tengah kondisi sepak bola Indonesia yang tidak menentu.

 


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *